Divine Word Missionaries

Arnold Janssen
Spirituality Center


AJSC


Back to

AJSC Index

Members' Area

Site Map

Home


Ibu Maria Mikaela sebagai pemimpin

oleh Sr M. Cathrine SSpSAP
(Terj. Simon Bata, SVD)

Kalau kita mau mengenal Ibu Maria Mikaela, kita perlu menoleh ke suatu masa yang lain sama sekali. Kita tahu bahwa selalu saja terjadi perubahan besar di dalam tiap sejarah kehidupan, termasuk di dalam Gereja dan hidup membiara. Kita boleh berpendapat bahwa pada masa itu lebih mudah menjadi seorang biarawan-ti atau menjadi pimpinan biara. Kehidupan tidak terlalu rumit; kaul-kaul jelas, otoritas dihargai, kehidupan keluarga stabil; dan para suster yang masuk Steyl mengenal dan menghargai otoritas di dalam keluarga mereka. Gereja ditata secara kokoh tanpa suatu perubahan yang kentara. Situasi mudah ditebak dan kata ‚dialog’ mungkin tidak ada dalam benak para suster. Ibu Maria Mikaela tidak mengikuti lokakarya atau seminar kepemimpinan. Model dan gurunya adalah pendiri kita St. Arnold. Seandainya kita sudah memiliki dokumen dari Roma tentang Ibu Maria Mikaela, ia tentu sangat gembira kalau membaca pernyataan berikut: “Fungsi otoritas … adalah perlu untuk pertumbuhan hidup persaudarian dalam komunitas dan untuk perjalanan rohani seorang yang berkaul”. (fraternal life in Community #48)

Marilah kita melihat Ibu Maria Mikaela seperti ini. Allah pencipta dan pengasih menganugerahkan manusia ciptaanya dengan 5 indra: untuk melihat, mendengar, mencium, mengecap, merasa. Saya berpendapat, Ibu Maria Mikaela dikarunia Tuhan 5 indra lain, yakni indrawinya akan Allah, akan liturgi, akan komunitas, akan akal sehat dan akan humor.

Kemampuan indrawinya akan Allah

Kita mengenal doanya: „Hidup tenang untuk Tuhan“. Doa ini menunjukkan bahwa Allah sungguh mendapat tempat pertama dalam hidupnya. Allah adalah pusat hidupnya, pedoman arah hidupnya. Ibu Maria Mikaela mencintai Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap tenaga dan dengan segenap akal budinya. Dalam semua pertimbangannya, seperti Bapa pendiri, (ia belajar dari Bapa Pendiri) ia pertama-tama berdoa. Dalam nasehatnya kepada para suster, ia mengantar mereka untuk menemukan Tuhan dalam segalanya dan bersiap sedia untuk jalan Tuhan, serta selalu berfokus pada Tuhan. Ia menginginkan para suster selalu mencari dan menjalankan kehendak Tuhan. Satu kutipan darinya: “Setiap kali kita mengambil air berkat dan membuat tanda salib, kita berdoa Kemuliaan kepada Bapa, atau mengulang doa iman, harap dan kasih seperti tertera dalam doa suku jam. Marilah kita berusaha memuji dan memuliakan Tritunggal Mahakudus dengan penuh cinta dan sukacita”.

Kemampuan indrawinya akan Allah sangat hidup dalam “devosinya yang luar biasa kepada Roh Kudus”. Bila hendak membuat keputusan, ia mengatakan kepada dewannya: “hendaknya kita pertama-tama menyerahkan keputusan ini kepada Roh Kudus”, lalu ia meminta seluruh komunitas untuk turut mendoakan. Ia membimbing para suster untuk lebih mencintai dan menghormati Roh Kudus dengan ucapannya yang lasim: “Bagi seorang Abdi Roh Kudus, setiap hari hendaknya merupakan pentekosta baru; setiap nafas, ‘Datanglah Roh Kudus’, setiap tindakan, ‘utuslah RohMu’, dan setiap detak jantung, ‘Tuhan Yesus, utuslah dari Bapa Roh Kudus’.

Ibu Maria Mikaela sungguh sejalan dengan pernyataan dari Vita Consecrata: “seperti seluruh kehidupan kristen, panggilan untuk hidup berkaul sangat erat terkait dengan karya Roh Kudus. Dalam setiap zaman Roh menyanggupkan pria dan wanita untuk mengenal daya tarik dari pilihan ini yang sungguh menantang … Rohlah yang menggerakkan kerinduan untuk menjawabinya secara penuh; Rohlah yang membimbing pertumbuhan kerinduan ini, membantunya menuju kematangan … Dengan membiarkan diri dibimbing oleh Roh pada jalan pemurnian seumur hidup, mereka semakin hari semakin menyerupai Kristus, kelanjutan kehadiran istimewa Tuhan yang bangkit dalam dunia ini” (VC 19)

Kemampuan indrawinya akan liturgi

Ibu Maria Mikaela mempunyai cita rasa liturgi jauh sebelum Vatikan II, dan terpanggil untuk berpartisipasi secara penuh. Ia memahami keharusan mendoakan ‚ibadat harian’ secara lengkap bagi kongregasi kontempaltip. Ia sensitip terhadap P. Arnold dan menunggu sampai kematian Arnold, baru ia memperkenalkan doa ‘ibadat harian’ dan menghilangkan ‚ibadat Roh Kudus’. Ibu Maria Mikaela melihat ‚ibadat harian’ sebagai ‚sama dengan ‘ibadat Roh Kudus’. Pada suatu kesempatan ia berkata: „Paduan suara kita dalam berdoa hendaknya merdu sehingga para malaekat tertarik dan mau memperkenankan kita menggabungkan diri dengan paduan suara mereka”. Nampaknya secara naluriah ia memahami bahwa paduan suara kami menghubungkan diri kami dengan seluruh Gereja di seluruh dunia. Dalam arti ini jelaslah bagi kami apa arti misi dalam sebuah ‚tarekat kontemplatip misioner’.

Bila pada masa sekarang ini pembaharuan liturgi begitu berfokus pada menjadikan Ekaristi sebagai jantung Gereja dan pusat hidup rohani kita, Ibu Maria Mikaela pasti sangat bergembira. Bahkan sebelum ia masuk biara, pada masa ia mengajar di Rondsburg, hatinya berbunga-bunga untuk dapat tinggal di bawah atap yang sama dengan tabernakel. Sebagai pemimpin ia tahu dari pengalamannya bahwa adorasi di depan Sakramen Mahakudus jauh lebih mudah dan bermanfaat bagi para suster. Ia merasakan hasilnya yang luar biasa bagi komunitas, karena itu ia terus berupaya memperoleh isinan. Mula-mula ia meminta uskup Roermond untuk pentahtahan Sakramen 3 kali seminggu; Lalu pada tahun 1915, setelah setahun pentahtahan paruh waktu, ia dengan berani meminta untuk pentahtahan purna waktu, dan ia mendpat isin.

Kemampuan indrawinya akan komunitas

Ibu Maria Mikaela memiliki cita rasa komunitas dan penuh perhatian bagi para suster; ia menghayati satu hidup komunitas yang baik dan penuh sukacita. Sebagai pemimpin ia tahu bahwa cinta dan pengampunan adalah inti hidup komunitas. Ia mengatakan: „Kita harus mengampuni seperti Allah yang baik mengampuni. Allah tidak mengingat lagi dosa-dosa yang sudah kita sesali, dan ia memperlakukan kita seperti kita tidak pernah bersalah“. Ungkapan lain yang sempat diingat oleh para suster: „Kita harus selalu menilai orang dengan lemah lembut dan lebih mencintai mereka yang kurang mencintai kita; Sering justru mereka inilah yang paling membutuhkan kasih“. Para suster sering mendengar dia berkata: „Tiada suatupun yang lebih akrab dengan diriku dan lebih menjadi kesayanganku selain memelihara semangat hidup religius yang baik antara para suster“.

Ibu Maria Mikaela sangat sependapat dengan pernyataan ‚Fraternal life in Community’: ‚Tugas utama otoritas adalah membangun kesatuan antara sama saudara dan sama saudari dalam komunitas, di mana Allah dijumpai dan dikasihi di atas segalanya. Karena itu seorang pemimpin haruslah seorang pribadi spiritual, yakin akan keutamaan rohani, menaruh hormat pada hidup tiap pribadi dan pertumbuhan hidup persaudarian; dengan kata lain ia harus tahu bahwa semakin cinta Allah bertumbuh dalam hati setiap pribadi, semakin bertumbuh pula kesatuan antar hati setiap orang dalam komunitas’ (48a)

Kemampuan indrawinya memakai akal sehat

Kemampuan memakai akal sehat dan sikap praktis Ibu Maria Mikaela dikenal oleh semua orang yang mengenalnya. Ketika ia menjadi pengawas bangunan rumah induk SSpSAP di Steyl, ia mengetahui dengan baik apa yang praktis untuk biara misi dan apa yang praktis untuk biara kontemplatip, apa yang perlu dan yang tidak perlu. Ia mencari informasi pada biara-biara lain, dan ingin menghindari kesalahan yang tidak dapat diperbaiki lagi, kalau rumah itu sudah selesai dibangun. Dalam pembentukan para suster ia menekankan bahwa mereka harus menggunakan akal sehat dalam setiap pekerjaan dan perbuatan mereka. Satu pernyataannnya tentang rasa tanggung jawab yang ia harapkan dari para suster: “Kalau rasa tanggung sungguh ada, maka semuanya akan berjalan baik; tetapi kalau rasa tanggung jawab itu kurang, maka semua aturan akan sedikit faedahnya”.

Kemampuan indrawinya akan Humor

Rasa humor atau semangat sukacita. Ibu Maria Mikaela pernah berkata : “Muka yang cemberut tidak memiliki tempat dalam biara. Pakaian biara kita adalah jubah sukacita dan bukan kesedihan”. Ia sendiri berusaha sekuat tenaga untuk menyemangati dan menanam semangat sukacita dalam biara. ‘Sukacita adalah kudus’, itulah satu ungkapan kesayangannya, yang terbukti dalam hidupnya sendiri. Seorang pernah mengatakan : ‘Sukacita adalah tanda paling jelas kehadiran Allah’. Seorang yang hatinya terpusat pada Kristus akan memiliki sukacita, walaupun situasi sekitar menimpah jalan hidupnya. Sukacita adalah pemberian Allah yang hadir dalam lubuk hati kita, yang menopang kita melewati peristiwa yang baik dan yang buruk dalam hidup. Evelyn Underhill bisa berbicara mengenai Ibu Maria Mikaela ketika ia menulis : ‘Inilah rahasia sukacita. Kita tidak lagi berjuang untuk jalan kita sendiri melainkan membaktikan diri kita secara bebas dan hanya untuk jalan Tuhan, pasrah kepada kehendakNya dan dengan demikian menemukan kedamaian’.

Seorang pernah menulis : ‘pemimpin rohani adalah seorang yang berdiri di antara anggotanya, menolong mereka untuk mengenal wajah Allah dalam dunia … Mereka berakar dalam hubungan mereka dengan Allah dan dalam mencari kebenaran’. Ibu Maria Mikaela adalah seorang pemimpin seperti itu untuk kongregasi kami mulai dari awal dan hadir sebagai contoh untuk kami dalam peran kepemimpinan kami dewasa ini.